Sabtu, 06 September 2014

Operasi Biduk Perlu Ikutkan Dinas Perumahan dan Kebersihan

 
Jakarta,  Berita Super
Operasi Bina Kependudukan (Biduk)  oleh  Sudin Dukcapil  Jakarta Timur  yang dimulai   23 Agustus hingga kini sudah meliputi 5 lokasi. Secara keseluruhan telah memergoki 2.533 orang pendatang baru yang belum terdaftar. Karenanya  mereka didata dan diberi  Surat Keterangan Domisili Sementara (SKDS) agar aman bagi semua pihak. Sebab paska lebaran ini dikhawatirkan penyusupan  kelompok teroris maupun ISIS yang mengacaukan keamanan dari luar daerah.  
Kasudin Dukcapil Jaktim H Abdul Haris, menegaskan hal itu  Sabtu (6/9)  usai dilapori Operasi Biduk di RW 06 Cipinang Besar Selatan (Cibesel), Kecamatan Jatinegara  yang dilaksanakan  Jumat malam (5/9).
"Saya setuju rencana Ketua RW 06 Cibesel yang akan mengumpulkan pemilik rumah kontrakan dan rumah kos untuk diberikan informasi berbagai hal penting," ujar Haris. Namun diharapkan pihak penyuluhnya tidak dari Sudin Dukcapil saja, tetapi juga harus melibatkan  Sudin terkait, terutama Sudin Perumahan dan Sudin Kebersihan. Kalau Satpol PP sudah pasti," tandasnya.  Begitu pula diharapkan dalam Operasi Biduk ini Dinas Perumahan dan Dinas Kebersihan diikutkan secara aktif.
Mengapa Operasi Biduk  harus melibatkan instansi lain?  " Sebab dari 5 kali operasi di tempat yang berbeda,  terlihat banyak rumah kos yang tanpa izin padahal memiliki lebih dari 10 kamar. Belum lagi banyak deretan rumah kos  dan kontrakan tak memiliki tempat pembuangan sampah , sehingga lingkungannya kotor," tambahnya.
Kepala Seksi Penertiban dan Kerjasama Sudin Dukcapil Jaktim Enaf Hanafi mengakui Operasi Biduk di Cibesel RW 06  mencatat 379 pendatang baru. Dari operasi Biduk di 5  lokasi,  yang paling banyak hasilnya dari RW 10 Klender, Kec. Durensawit ada  948 orang. Lainnya antara 300-400 orang.  Mereka umumnya pencari kerja dan pengamen dari luar DKI dan tak berniat tinggal di sini. Bila ingin pindah harus membawa surat pindah, SKCK  dan keterangan penting lainnya dari daerah asal.
Ketua RW 06 Cibesel HMF Ayay Rusmala menguraikan dari 379 pendatang baru tersebut kebanyakan dari 4 RT yaitu RT 01, 02, 03,  RT 09 dan RT 10. "Mereka dikumpulkan di SD N 01 Cipinang Besar Selatan diberikan penjelasan," katanya. Diakui di wilayahnya banyak rumah kos dan rumah kontrakan yang penghuninya silih berganti. Karena itu HMF Ayay Rusmala merencanakan mengumpulkan pemilik rumah kos dan rumah kontrakan tersebut untuk diberikan pencerahan mengenai pentingnya perizinan dan pendataan.
Dari catatan  Sudin Dukcapil  Jaktim terlihat data hasil operasi Biduk  di RW 10 Kel dan Kecamatan Pulogadung mencapai  421 orang, di RW 05 Cililitan Kec.Kramatjati 392, Cipinang Melayu RW 01 (Makasar) 393 orang. (pri)  **** 

Operasi Bina Kependudukan di RW 06 Cibesel Jatinegara

Para kembar di RW 03 Malaka Jaya

Kembar Fina - Fani digendong Kembar Lina tanpa Lani. Si kembar Riko -Riky bersama Pakde dan Budenya.

Banyak Pengalaman Menarik dari Orang Kembar

Jakarta, Berita Super
RW 03 Kelurahan Malaka  Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur memiliki sedikitnya 12 pasang anak maupun orang kembar. Di antaranya  Fina dan Fani ( 1,5 tahun) putri Opang Wijaya, Nisrina dan Yasmina (3,5 tahun) putri  Mohammad Ferry, Riko dan Riky (14,5), siswa Madrasah Tsyanawiyah Negeri 24, Pondok Kopi, kembar laki dan perempuan Rabiq dan Firli, (19) , Lina dan Leni (37), Pujo Wibowo dan Pujo Utomo (40), Ny Uung Suhainingsih  dan Ny Aang Suhanah (63), serta  Ny Pariyah dan Ny Pariyem (74).
Meskipun  demikian di Kantor Suku Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil  (Sudin Dukcapil)  Jakarta Timur tidak terdapat catatan khusus mengenai warga kembar tersebut. "Ya, memang ada saja yang melahirkan anak kembar dan mengurus akte kelahiran kemari. Ditulis pada aktenya anak kembar pertama, kedua atau keberapa. Ini untuk mengetahui urutan anak tersebut. Tetapi tidak ada  catatan khusus sehingga dapat dikelompokkan datanya," ujar Haris di kantornya Jumat (5/9). Bila datanya  ada dalam computer, Sudin Dukcapil Jaktim tak memiliki kata kunci untuk mengelompokkan data anak kembar.
Pernyataan tersebut menjawab keingintahuan seorang pengurus RW 03 Malaka Jaya yang mengamati betapa banyak warganya yang kembar. Kader Kesehatan RW 03 Malaka Jaya, Ny Siti Sutarmi  menghitung lebih 12 pasang kembar di wilayahnya. "Paling banyak di RT 09. Satu keluarga saja ada tiga kali melahirkan kembar," katanya.   
 Abu Bakar,  Camat Duren Sawit, ketika ditanya masalah kependudukan yang menyangkut orang kembar  di wilayahnya  juga mengaku belum mendapat informasi. Sementara dr Dina Wijayanti, kepala Puskesmas Kelurahan Malaka Jaya merasa senang dengan banyaknya anak kembar. Hanya dia mengingatkan bagi orang tua  harus ekstra perhatian pada anak kembarnya. "Namun itu tidaklah sulit," sergahnya.  
Andang Subaryono  Ketua RW 03 Malaka Jaya,  baru sadar banyak warga kembar. Ia berjanji akan mendatanya lebih cermat lagi. Tentu ini sangat diperlukan bagi mereka sendiri maupun wilayahnya.
Pengalaman unik
Banyak  pengalaman unik dalam keluarga kembar. Ny Setiyoko waktu Riko dan Riky bayi sulit membedakan. Pernah yang satu malas menyusu dari botol, padahal seingatnya belum masuk minuman apa-apa. Setelah diteliti ternyata sudah beberapa kali ngedot botol. Untuk membedakan dua kembar identik ini akhirnya keduanya diberi gelang yang berlainan motifnya.
Riky sendiri pernah mengalami dimarahi  guru dan ditegur teman Riko. Tetapi setelah dijelaskan dia bukan Riko akhirnya mereka sadar salah sasaran. Hal sebaliknya juga terjadi pada Riko.  Padahal sejak di TK, SD Malaka 12  sampai sekolah menengah pertama (Madrasah Tsanawiyah ) Negeri 24 , Jaktim, keduanya tak pernah berpisah selalu satu kelas. "Mereka tak pede bila dipisah. Pernah sih yang satu dipindahkan ke lain kelas, hasilnya memang kurang bagus," ujar H Setiyoko maupun isterinya.
Begitu pula dengan Ny Uung Suhainingsih dan Aang Suhaenah. Pernah ketika Ny Aang Suhaenah pulang dari RS Persahabatan ketika menyeberang jalan tiba-tiba digandeng dengan ramah oleh seorang sebayanya. Dia tak habis pikir sampai dikatakan begitu dingin pada teman lama. Ketika Ny Aang menyebut namanya dan mengaku bila memiliki saudara kembar, barulah semua klir.
Lain lagi  pengalaman tetangga si Nenek Kembar. Ketika banyak orang datang berhalal bihalal Lebaran yang baru lalu,  dikiranya sudah selesai dengan Ny Pariyah .  Ternyata putrinya berucap, "Tunggu sebentar, ibu sedang keluar."  Lha , kalau begitu yang kita salami tadi siapa? Tak lama kemudian seorang lagi bak pinang dibelah dua , datang minta maaf kepada  tamunya. Jadi yang di rumah tadi justru bukan sahibul bait alias yang empunya rumah melainkan kembarannya, Ny Pariyem yang juga bertamu. Jadilah semua tertawa geli.  
Anak kembar maupun orang kembar memiliki permasalahan yang spesifik, baik dari diri mereka maupun bagi  keluarga dan lingkungannya. Makanya  memerlukan problem solving spesifik pula. Hanya saja diakui oleh masyarakat umum bahwa kehadiran si kembar terutama ketika masih kecil selalu mengundang perhatian orang banyak.
Wakil Ketua Yayasan Nakula Sadewa, ketika dikonfirmasi masalah data pasangan orang kembar se DKI menjawab datanya sudah hilang. "Datanya ada di computer. Namun sudah  hilang   ketika tanggul Situ Gintung jebol tahun 2009 yang lalu," ungkapnya. Itu terjadi karena kantor yayasan peduli anak kembar itu di dekat tanggul tersebut.  Yang ia ingat pada  tahun 1990-an yang dicatat yayasannya sudah mencapai 1.500 pasang anak atau orang kembar. Bagaimana perkembangannya, Anna tidak memiliki catatan.  
Menurut pengurus Yayasan Nakula Sadewa, menjadi anggota yayasan kembar ini tidak sulit. Kirim surat saja minta didaftar dengan mencantumkan nama, alamat dan tanggal lahir ke alamat e-mail tersebut ini : ynakulasadewa@gmail.com.  Di situ banyak informasi, pengalaman dan segala hal yang perlu diketahui dengan mudah oleh para kembar dengan komunitasnya…Sejarah anak kembar sama dengan sejarah keberadaan manusia, yaitu sejak Nabi Adam AS dengan beberapa kali Ibu Hawa melahirkan anak kembar dampit, laki-laki dan perempuan.  (Suprihardjo).

Jumat, 05 September 2014

Lebih 2200 Hewan di Jaktim Divaksinasi

Untuk mempertahankan predikat bebas rabies, kali ini Dinas Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta melakukan kegiatan vaksinasi di Kelurahan Setu, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Kegiatan vaksinasi tersebut diberikan bagi hewan berdarah panas seperti, Anjing, Kucing maupun Monyet yang ada di sana, karena daerah tersebut merupakan daerah perbatasan. Alasan takut tertular, sehingga daerah tersebut dipilih menjadi sasaran utama penyisiran.
Kepala Suku Dinas Peternakan dan Perikanan Jakarta Timur, Wachyuni mengatakan kegiatan tersebut merupakan instruksi dari Kepala Dinas yang dilakukan serentak di lima wilayah. Tujuannya,kata dia, mempertahankan Jakarta bebas rabies yang berlangsung sejak 2004 lalu. '' Jakarta memang sudah bebas, akan tetapi didaerah penyangga seperti Bekasi kan belum. Dikuatirkan penularan,makanya kita pilih lokasi perbatasan Bekasi,'' ujarnya kemarin (5/9). Wachyuni berharap masyarakat waspada terhadap rabies karena bisa mematikan.''Makanya kita mau masyarakat mengerti bahwa hewan piaraannya itu penting untuk divaksinasi,'' katanya.
Berdasar data, lanjut Wachyuni, sejak Januari hingga Agustus total vaksinasi rabies yang telah dilakukan sudin peternakan dan perikanan Jakarta timur mencapai 2262 ekor. ''Kita sudah capai 64,65 persen dari 3500 ekor yang kita targetkan tahun ini,'' ungkapnya. Pada Januari pihaknya  memvaksinasi rabies sebanyak 239 ekor hewan berdarah panas, Februari 248 ekor, Maret 450 ekor, April 203 ekor, Mei 376 ekor, Juni, 337 ekor, Juli 304 ekor, dan Agustus 105 ekor.
Sementara untuk wilayah, ungkap Wachyuni, didominasi oleh Kecamatan Makasar sebanyak 383 ekor. Sedangkan Matraman sebanyak 183 ekor, Jatinegara 111 ekor, Pulogadung sebanyak 302 ekor, Duren Sawit 355 ekor, Cakung 74 ekor, Kramatjati sebanyak 175, Cipayung sebanyak 206, Ciracas sebanyak 335 ekor, dan Pasar Rebo 138 ekor.''Kita sebenarnya menargetkan jumlah yang paling banyak di Kecamatan Pulogadung dan Duren Sawit sebanyak 700 ekor, karena data tersebut merupakan usulan dari kasie peternakan dan perikanan yaang ada di Kecamatan,'' terangnya. Namun,lanjut Wachyuni, pihaknya akan terus melakukan penyisiran agar Jakarta Timur tetap terbebas dari rabies. Sebab, banyak warga Jakarta Timur yang senang memelihara hewan berdarah panas tersebut.
Iveth, 40, Salah satu warga yang membawa Anjingnya untuk divaksinasi tampak antusias datang ke tempat tersebut. Iveth mengaku kedua anjing kerap diajak bermain oleh anaknya.''Makanya saya bawa kemari, apalagi kita sekeluarga senang sama Anjing. Terlebih Archur dan Dipsy (Nama Anjing, RED)  udah dianggap kaya keluarga kita sendiri,'' ungkapnya.
Ibu dua anak tersebut mengaku rutin membawa kedua anjing piaraannya perawatan ke salon. Bahkan, kedua Anjing tersebut diberi makan khusus dan vitamin secara teratur. ''Rambutnya kan gimbal, makanya sekali seminggu dibawa ke salon. Mereka (Anjing, RED) kan sudah seperti anak saya, makanya perawatan dan kesehatan itu penting,'' katanya.

Selasa, 02 September 2014

4 Pemburu Liar Ditangkap Awali Festival Teater Anak di TIM

 
Jakarta, Berita Super
"Pemburu Liar"  yang disajikan Teater Scala dengan "ending" tertangkapnya para perusak lingkungan  telah mengawali  Festival Teater Anak yang berlangsung di Gedung Teater Kecil  Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat selama 6 hari.  Hajat mengejar prestasi dan saling memberikan apresiasi ini digelar Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta dan Lembaga Teater Jakarta dibuka  PLH Kepala Bidang Pemerdayaan Masyarakat Disparbud DKI, Abdur Rachem dengan pemukulan gong tiga kali.
Babak pertama settingnya dalam hutan dengan satu regu pramuka sedang berkemah. Ceritanya mengalir penuh dialog  bahasa  anak  gaul,  namun menyiratkan nilai nilai,  termasuk disiplin diri dan perlunya hidup berbagi. "Bahasa tubuh dan lemparan kata yang mencuat bernuansa jenaka," ujar Abu Galih, pengamat budaya dan pariwisata Jakarta.
Seorang nenek bongkok tertatih-tatih sendiri dalam hutan. Ketika ditanya, malah nyeletuk,"Kasih tahu nggak ya?" .  Mendengar 'kejutan' itu penonton yang kebanyakan anak-anak dan guru drama itu pun gemuruh tertawa.
Para orang tua juga tak  asing lagi dengan pementasan mereka sejak lagu lama diperdengarkan untuk selingan. Di antaranya lagu berirama Cha-cha "Papaya," yang dilanjutnya dengan menyebut nama buah lainnya Mangga, Pisang, Jambu. Penggalan lagu "Apanya Dong"  ciptaan Titik Puspa  yang dibawakan penyanyi bersuara sekak Euis Darlia, disisipkan pula dengan gerakan jenaka.
Sementara peserta kedua, Teater Batu Karang berkisah tentang panti asuhan dengan anak-anak penghuninya yang masing-masing memiliki  cita-cita. Namun akhirnya terjadi ironi. Setiap babak setting nya sederhana namun dialog dan narasinya menyiratkan pengetahuan yang luas penulis naskahnya. Yang menggembirakan,  selain sindiran kondisi terkini negeri ini, sekaligus memperteguh rasa kebangsaan dan kebanggaan sebagai orang Indonesia.
Ketika seorang anak perempuan yang bercita –cita menjadi pilot mengumumkan  ketinggian pesawat menyebut pula koordinat posisi pesawatnya. "Kita sedang di Jawa Tengah, di atas candi Borobudur salah satu keajaiban dunia yang dibangun Wangsa Syailendra  di abad kedelapan yang silam," ujar gadis itu seakan dari cockpit pesawat.
Pengamat Abu Galih mengakui mutu kedua grup teater awal tersebut. Namun  apakah grup-grup  berikutnya sebaik itu?  Harry de Frettes seorang dari 3 anggota dewan juri menunjukkan jempolnya  sambil tersenyum lebar melihat penampilan teater anak-anak itu.
Sekitar 500 anak dari usia PAUD, TK, SD sampai SMP dari 26 grup se Jabodetabek  mengikuti festival teater anak tersebut.
 Abdur Rachem yang juga Kepala Bidang  Pengkajian dan Pengembangan Disparbud DKI menegaskan,  hidup berkesenian sebenarnya memiliki nilai lebih. Sayangnya banyak yang memandang sebelah mata.
Diingatkan, festival teater anak ini bukan untuk mengejar prestasi, melainkan sebagai ajang meningkatkan apresiasi berteater. "Visi kebudayaan sama dengan visi pendidikan, yaitu membangun kecerdasan, ketrampilan dan kreativitas masyarakat. Apalagi  seni teater ini adalah ajang olah vocal, olah tubuh dan olah ruang ," ujarnya .
Acep S. Martin selaku Ketua Umum Lembaga Teater Jakarta menjelaskan, peserta festival terdiri dari grup dan sanggar teater maupun sanggar sekolah di Jabodetabek yang memiliki kelompok teater anak-anak. Mengenai peserta dari luar DKI, Acep mengatakan kurang dari 20%. Mereka itu sudah biasa berteater maupun latihan di TIM , sementara di daerahnya kurang kegiatan. Bertindak sebagai dewan juri yaitu pemain Lenong Rumpi, Harry de Frettes, dan dua orang teater lainya , Agus Fatah dan Edy Haryono.   Bagi yang senang teater, kesempatan menonton dan mengapresiasinya tiap hari di Teater Kecil TIM sampai berakhirnya festival 7 September mendatang. (pri).
 

FOTO ONRUST DAN KELOR TERBARU