Minggu, 10 November 2013

Pengalaman Berpuasa di Kutub Utara dan Negeri Ginseng (1)

Pengantar:
Setiap tiba bulan Ramadhan, tentu mengingatkan kita pada Ramadhan sebelumnya. Apalagi bila menjalani ibadah puasanya di luar negeri yang penduduknya mayoritas non muslim, pasti sangat berbeda dari biasanya. Bahkan banyak kesulitan dan kenangan yang tak mudah dilupakan. Untuk mengorek pengalaman menarik itu, H Suprihardjo selaku staf redaksi Buletin Ramadhan Masjid Darul Arqam pada medio Juni 2011 M/ bulan Rajab 1432 H melakukan wawancara dengan beberapa orang yang pernah mengalaminya. Hasil wawancaranya kami sajikan dalam sebuah tulisan berikut ini, semoga dapat dipetik hikmahnya.

Norwegia dengan ibukotanya Oslo, merupakan satu negara di jazirah Skandinavia, Eropa Utara yang memiliki ciri alam yang sangat spesifik, yaitu bergunung gunung salju dan garis pantainya berliku liku serta teksturnya terjal yang disebut fjord (baca fyord). Posisi negeri ini membentang dari selatan ke utara dari 55 derajat sampai 70 derajat garis Lintang Utara yang berarti nyaris dekat dengan Kutub Utara.

Kota Oslo sendiri secara geografis berada di koordinat sekitar 60 derajat Lintang Utara dan 11 derajat Bujur Timur. Sebagai perbandingan kota Jakarta berada di koordinat sekitar 6 derajat Lintang Selatan dan 107 derajat Bujur Timur. Selain letaknya sangat berjauhan, jelas iklimnya jauh berbeda dengan Jakarta. Begitu pula dengan penduduknya yang sebagian besar non muslim. Meskipun begitu ternyata di sana juga ada beberapa masjid. Sehingga untuk beribadah sehari-hari maupun untuk beribadah puasa Ramadhan dan sholat terawih berjamaah tidak sesulit yang kita bayangkan. Tentu saja banyak hal yang tetap menjadi masalah, meskipun akhirnya dapat diatasi.
Pengalaman beribadah puasa Ramadhan di negeri kutub utara ini diungkapkan Dra Kustiatun Widianingsing M.Phil.SNE, dosen mata kuliah Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Waktu itu dia mendapat beasiswa program S2 untuk Master of Phylosofi Special Need Education yaitu pendidikan untuk anak cacat.


“Kami semua guru-guru SLB (Sekolah Luar Biasa) dari seluruh Indonesia berjumlah 14 orang mendapat beasiswa kuliah di Oslo University tahun 1999. Selama dua tahun sampai tahun 2001 kami tinggal di daerah Kringso beberapa kilometer dari kampus,” ujar Kustiatun Widianingsih yang lebih akrab disapa dengan Bu Widia kepada buletin Masjid Darul Arqam di Jakarta, Juni yang lalu.

Rabu, 06 November 2013

130 Pemuda Jelajahi Kota Toea, Sejarah Selalu Terulang Polanya.

Jakarta, Blogger
Sebanyak 130 orang pemuda, pelajar dan mahasiswa dari Jabodetabek  melakukan Jelajah Kota Toea Jakarta, Minggu (3/11) yang difasilitasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Mereka dipandu pengurus Komunitas Jelajah Budaya yang diketuai Kartum Setiawan seorang museolog dari UI. Para peserta berangkat dari Museum Mandiri di Jl Pintu Besar Utara dengan terlebih dahulu menonton film documenter keadaan kota Batavia sebelum tahun 1941. Di antaranya film nonton sepakbola di Waterlooplein yang sekarang bernama Lapangan Banteng.  



Dari situlah peserta yang dibagi dalam 5 kelompok menjelajah Kota Toea ke Museum BI, melihat bangunan dari abad ke 18 di sepanjang Kali Besar, jembatan jungkat jungkit Kota Intan dan ke Museum Sejarah Jakarta (MSJ). Di museum yang dibangun tahun 1707-1710 ini para peserta menyaksikan latihan pergelaran kolosal rekonstruksi sejarah Penyerangan Sultan Agung Mataram ke Batavia 1628-1629. Ketika rombongan Jelajah Kota Toea memasuki ruang pamer MSJ, mendadak seorang peserta putri jatuh pingsan. Tenyata dia mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah.


Dalam diskusi akhir para peserta dan penyelenggara, sejarawan Universitas Indonesia, Dra Tri Wahyuningsih MSi dan dosen Universitas Islam Neger (UIN) , Ibnu Qoyim  menegaskan sejarah selalu berulang. “Bukan  peristiwanya, tetapi polanya yang berulang,” tandasnya. Seperti perkembangan Kota Batavia, dahulunya didukung oleh kepentingan warga kota di sekitarnya seperti Mester Cornelis (Jatinegara) dan Tanah Abang.  Ternyata ini berulang. Setelah menjadi Jakarta perkembangannya tak lepas dari daerah penyangga yang lebih luas sehingga terbentuk kawasan Jabodetabek. Yaitu Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi.


Dra Triana Wulandari, Kasubdit Verifikasi dan Permuseuman Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya Kemendikbud RI menjelaskan,  kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran sejarah dan budaya warga Jakarta dan sekitarnya. “Terbukti dari peserta sebanyak ini yang sudah pernah menjelajahi Kota Toea Jakarta baru 10 persen. Makanya kami  membantu memfasilitasi,” ujarnya. Menurut Triana, tahun ini  Kemendikbud RI  juga memberikan fasilitas untuk penjelajahan sejarah dan budaya  kota Padang, Yogyakarta dan Solo.  Tahun 2014 pihaknya memfasilitasi penulisan  sejarah dan budaya di 5 wilayah, yaitu Makassar, Ternate, Yogyakarta, Ambon dan Pontianak.


Kartum Setiawan mengatakan, wilayah Kota Toea Jakarta luasnya 846 hektar. Bila dicermati banyak hal yang dapat dipetik dari kawasan ini terutama keindahan bangunan bersejarah yang memerlukan perhatian semua pihak agar tetap menjadi lingkungan terpelihara, bersih, tertib dan aman.
Rizko Ramadhan seorang peserta dari SMK Fajar, Depok mengatakan ia terkesan dengan jelajah kota tua tersebut. “Yang paling berkesan bagi saya Toko Merah di Kalibaru Barat” katanya. Dia sempat masuk dan terdapat informasi mengenai kegiatan dalam bangunan abad ke-18 itu di masa silam.



Lain lagi dengan Muhammad Nurazami, mahasiswa semester 3 Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Ciputat. Ia justru terkesan dengan koleksi Museum Sejarah Jakarta. Dari sana ia tahu bahwa akar budaya dan etnis Betawi sebenarnya dari Kerajaan Sunda Tarumanagara abad ke -5 Masehi.****      .

Alumni SMPN 1 Singosari Reuni di TMII

Cipayung ,  Pos Kota
Sebanyak 70 orang alumni SMP Negeri Singosari, Malang  menyelenggarakan reuni Bogor dan  Jakarta  pada 2-3 November 2013. Tema reuni tersebut “Menyambung Tali Silaturahmi yang Sudah 39  Tahun Tidak Ketemu”.




Ketua panitia di Jakarta Bambang Sumali, bersama Sujarwo dan Hendaryanto menjemput rombongan peserta dari Malang di Stasiun Pasar Senen pada hari Sabtu (2/11). “Kami sengaja naik KA Ekonomi  AC  Matarmaja ini dengan maksud agar tak ada kesenjangan di antara peserta,” ujar Ketua Panitia Malang , Tunggul Ansori. 

Peserta dari Tuban, Didik Wahyudi juga bergabung ke Malang untuk sampai ke Jakarta. Setelah berkangen-kangenan sejenak, rombongan segera diangkut dengan bus ke Cisarua, Bogor dan disambut Widodo seorang alumni yang sukses di kota ini. Mereka membuat acara dan menginap di situ. Guru Olahraga dan Ilmu Ukur SMPN 1 Singosari tahun 70-an, Pak Kusnoudin (72)  beserta isterinya juga ikut menghidupkan reuni tersebut.  Peserta wanita seperti Lis Herdiana, Yanti Budi dan Sri Mulyo Utami terlihat tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya bertemu teman lama di acara malam itu.


Baru esok harinya rombongan alumni SMP Negeri 1 Singosari tahun 1970-an turun gunung dan  mengadakan kegiatan di TMII Jakarta Timur sehari suntuk. Ada yang naik cable car,  monorail  atau Titian Samirono, dan banyak pula yang mencoba sepeda tandem keliling Taman Mini Indonesia Indah. Tentu saja sebagian mereka mengunjungi Anjungan Jawa Timur, Kalimantan Timur dan beberapa anjungan provinsi yang berdekatan. 

Dari TMII rombongan berbelanja ke Tanah Abang, selanjutnya menginap di kampus STIP Marunda. Baru esok harinya Senin (4/11) rombongan  berfoto ria di Monas dan solat di Masjid Istiqlal, dua monumen yang dibangun hampir bersamaan dalam menegakkan national and character building yang dikampanyekan Bung Karno proklamator kita.

Reuni berakhir di Stasiun Senen sambil melepas rombongan ke Malang dengan KA Matarmaja dengan ucapan selamat jalan oleh Bambang Sumali .”Jangan lupa di lain waktu kita akan ketemu. Salam Satu Jiwa,” ujar Bambang yang menjabat Purek II STIP Marunda. ***

Kamis, 24 Oktober 2013

Berwisata ke Penataran Melihat Candi Terpancung

Jauh berjalan banyak yang dilihat. Perjalanan kita kali ini menuju Kabupaten Blitar untuk melihat tempat-tempat bersejarah dan panorama indah, baik di lereng dan kaki Gunung Kelud, aliran kali Brantas maupun pantai selatannya. Kota Blitar sendiri yang dikenal sebagai tempat peristirahatan terakhir presiden pertama RI , Ir.H. Soekarno banyak pula dikunjungi wisatawan dari berbagai penjuru tanah air bahkan mancanegara.

Namun kita tidak ke kotanya melainkan langsung ke wilayah kabupaten Blitar yang masih banyak peninggalan sejarah Kerajaan Daha, Singhasari maupun Majapahit. Peninggalan sejarah tersebut di antaranya Candi Sawentar di Kecamatan Kanigoro, Candi Plumbangan di Kecamatan Doko,Candi Simping di Sumberjati dan Candi Penataran di Kecamatan Nglegok, yang masih terawat dengan baik dan banyak dikunjungi wisatawan.

Ke candi yang disebutkan terakhir itulah kita berkunjung. Dari stasiun kereta api atau terminal bus Blitar kita naik mobil ke arah utara sejauh 15 km melalui komplek Makam Bung Karno. Sesampai di jalan mendaki setelah melewati kantor Kecamatan Nglegok ada pertigaan , kita belok kiri. Di hadapan kita ada gapura dan pos retribusi parkir Kawasan Wisata Penataran. Dari perparkiran jalan kaki melalui deretan pedagang cinderamata. Masuk halaman kompleks percandian kita harus turun dulu hanya beberapa langkah di parit kering kemudian naik lagi tangga untuk menapak ke halaman yang luasnya sekitar 1,3 hektar. Ini merupakan kompleks percandian terluas di Jawa Timur selain Trowulan, Mojokerto.

Terlihat hamparan sisa bangunan dari batu andesit dan sisa-sisa fondasi dari batu bata merah, diikuti beberapa bangunan candi, ada yang utuh, tanpa badan candi maupun tanpa bagian atasnya. Juga banyak berdiri arca-arca serta dinding batu berrelief berbentuk manusia, fauna dan flora. Kompleks bangunan Hindu ini ditemukan tahun 1815 oleh Letnan Gubernur Jenderal Sir Thomas Stamford Raffles yang mengarang buku “History of Java.” Padahal pertama kali dibangun oleh Raja Srengga dari Kediri tahun 1194 M dan dilanjutkan penerusnya sampai zaman Majapahit.

Yang langsung menarik perhatian adalah Candi Brawijaya karena sering kita lihat replikanya di mana-mana. Juga sosoknya telah dijadikan symbol Kodam VIII Brawijaya dengan bintang lima di atas gambar candi tersebut. Namun nama sebenarnya bangunan itu adalah “Candi Angka Tahun” karena di pintunya yang menghadap ke barat laut terdapat angka tahun 1291 Saka (1369 Masehi). Juga disebut Candi Ganesha karena dalam bilik candi tersebut terdapat arca Ganesha.
Di belakangnya terdapat candi terpancung tanpa mahkota setinggi 4,7 meter yang disebut Candi Naga karena ada relief besar sepasang naga melilit badan candi tersebut. Kata Bondan Siswanto petugas Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur di obyek wisata itu, dalam Candi Naga dahulunya disimpan peralatan upacara keagamaan yang dianggap suci. “Dahulu ada atapnya tetapi bukan dari batu,” ujarnya. Mungkin dari konstruksi kayu dan ijuk atau daun enau. Kompleks candi Penataran dahulunya bernama candi Palah yang mulai dibangun sejak zaman Kediri, sampai zaman kerajaan Singhasari namun baru selesai setelah zaman Majapahit. Oleh Raja Jayanegara dari Majapahit yang memerintah tahun 1309-1328 M, candi tersebut dikukuhkan sebagai Candi Negara.
Di belakang candi terpancung ini berdiri candi induk yang tinggal palataran cawannya saja setinggi 7 meter dan sedikit elevasi lantai yang berundak-undak. Pengunjung dapat naik ke pelataran dan cawan candi yang dindingnya diukir relief yang menggambarkan cerita Ramayana dengan diselingi relief medallion bergambar berbagai binatang dari burung, buaya, landak, sapi, kancil, sampai kuda.
Di sebelah utara bangunan induk ini terdapat batu batu berukir bekas reruntuhan candi induk tersebut yang direkonstruksi. Namun menurut Bondan, masih dalam susunan percobaan sehingga belum dapat diangkat ke tempat semula. Di sebelah tenggara candi induk terdapat kolam dengan dinding berangka tahun 1337 Saka (1429 Masehi) terdapat relief cerita kura-kura sombong yang ditolong burung bangau, namun akhirnya kura kura tersebut menemui ajal karena kesombongannya. Sayangnya banyak pengunjung yang terlewat mengamati bekas kolam tersebut. Warga Lodaya, Kabupaten Blitar H Suryadi mengaku sudah ke Penataran dua kali tetapi terlewati pula memperhatikan kolam dengan relief yang bercerita masalah budi pekerti itu.
Untuk keperluan pengunjung solat dan ke toilet disediakan fasilitasnya di sebelah utara bangunan induk dengan air yang sejuk . Maklum ketinggian desa Penataran di lereng Gunung Kelud ini sekitar 450 m di atas permukaan air laut dengan kehijauan pohon pohon di sekelilingnya.

Pengunjung candi Penataran selama tahun 2013 rata-rata mencapai 17.300 orang tiap bulan, termasuk wisatawan mancanegara 240 orang tiap bulan . “Bulan Juni sampai Agustus biasanya banyak wisatawan mancanegara yang datang,” kata Bondan. Agustus yang lalu pengunjungnya mencapai 17.500 orang lebih termasuk 420 orang wisman. Tak jauh dari candi induk terdapat tempat cetak foto dari HP maupun memory card kamera digital. Tentu saja fasilitas ini memudahkan pengunjung membuat kenang-kenangan foto berharga saat itu juga. ***

Foto foto :
Candi Brawijaya.

Candi terpancung dililit naga.

Anak kecil tampak mengagumi candi.

Relief cerita Ramayana dengan pertempuran pasukan kera melawan tentara raksasa Alengka.

Candi Penataran dengan ratusan pengunjung.





Rabu, 23 Oktober 2013

Pengunjung Candi Penataran Meningkat 39,5%

Blitar, Blogger
Pengunjung Candi Penataran di Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar tahun 2013 ini meningkat dibanding tahun 2012 yang lalu. Hal ini menggembirakan mengingat tahun lalu menurun dibandingkan sebelumnya.



Bondan Siswanto petugas Balai Pelestarian Cagar Budaya Trowulan di Penataran mengungkapkan Rabu (23/10). “Malahan akhir-akhir ini banyak wisatawan man canegara yang dating. Mereka dibawa pemandu wisata dari Yogyakarta maupun dari Bali,” ujar Bondan yang semalam habis piket malam di candi tersebut.


Disebutkan oleh Bondan selama tahun 2012 pengunjung candi Penataran yang ditemukan Letnan Gubernur Jenderal Raffles tahun 1815 M itu mencapai 149.692 orang termasuk wisatawan mancanegara 1.843 orang. Berarti rata-rata terdapat 12.474 orang pengunjung tiap bulan dengan wisatawan mancanegaranya 153 orang tiap bulan.


Sedangkan selama tahun 2013 sampai saat ini rata rata pengunjung candi resmi kenegaraan Majapahit abad ke 14 ini mencapai rata rata mencapai 17.403 orang tiap bulan termasuk wisatawan asing 170 orang tiap bulan. Bila dihitung peningkatan jumlah pengunjung tahun ini mencapai 39,5%. Sedang khususnya wisatawan asing meningkat 11%. “Memang banyak wisatawan asing pada umumnya meningkat pada bulan-bulan Juli, Agustus sampai September. Itu waktu mereka liburan kayaknya.” Kata Bondan sambil menunjukkan data selama Juli dan Agustus terdapat 638 wisatawan mancanegara, terutama dari Eropa dan Amerika.


Diungkapkan dalam kompleks perandian seluas 1,3 ha itu tidak jarang pengunjung local yang mengadakan ritual malam hari. Mereka itu pemeluk agama Hindu yang berasal dari Blitar bagian timur. Maka dari itu dari 12 petugas balai pelestarian benda cagar budaya di Penataran ada giliran bertugas malam hari sampai pagi jam 06.00. “Ini sudah belangsung lama sejak 1992,” ujarnya.





Kamis, 03 Oktober 2013

Hanya 10% Anggota Pertuni Berpendidikan PT

Jakarta, Suara Karya 
Hanya 10% jumlah anggota Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) Cabang Jakarta Timur yang berpendidikan perguruan tinggi (PT). Karena itu dalam menggerakkan organisasi 5 tahun kedepan kualitas sumber daya manusia (SDM) Pertuni Jaktim harus ditingkatkan dengan berbagai pendidikan dan pelatihan.

Sekretaris Pertuni Jaktim Dila dan kawan-kawannya sesama tuna netra.

Para tuna netra menulis nama calon ketua yang dipilih.
Demikian Ketua Terpilih DPC Pertuni Jakarta Timur 2013-2018, Yogi Madsoni alias Soni usai Musyawarah Cabang (Muscab) IV Pertuni Jaktim di ruang sayap kanan kantor Wali Kota Jakarta Timur, Rabu (2/10). Muscab tersebut dibuka Asisten Kesejahteraan Masyarakat Sekko Jakarta Timur H Ibnu Hadjar yang diikuti sekitar 150 anggota dan dihadiri Ketua DPD Pertuni DKI Jakarta, Eka Setiawan SPd. Soni mengalahkan kandidat lainnya, Dila Nuraini yang hanya meraih sepertiga suara pemilih Soni.

Ketua Pertuni Jaktim Yogi Madsoni sedang pidato
Selanjutnya Yogi Madsoni mengungkapkan dari anggota sebanyak 193 orang yang berpendidikan SLTA 27%, pendidikan dasar SD-SMP 42% dan berpendidikan nonformal 20%. Dari segi pekerjaan 90% menjadi tenaga terapis, dan hanya 10% menjadi pengajar, musisi dan pegawai negeri sipil.

Para tuna netra menulis dengan huruf braille nama kandidat ketua yang dipilih.

Terpilihnya Madsoni memang diharapkan Dila Nuraini ( 28) yang merasa belum siap. Andri dan isterinya sesama tunanetra mengharapkan Madsoni yang begitu sabar dan transparan memimpin Pertuni Jaktim meneruskan menjadi ketua 5 tahun kedepan.

Anggota atau pengurus naik ke mimbar selalu dituntun anggota panitia yang melek.

Para peserta Muscab Pertuni Jakarta Timur
Uniknya Muscab ini setiap anggota atau pengurus naik ke mimbar selalu dituntun anggota panitia yang melek. Begitu pula waktu menulis nama tokoh yang dipilih, pemilik suara dituntun ke meja penulisan dengan huruf braile. Menurut ketua panitia Ponco Subagio, kepanitiaan 5 orang tunanetra Pertuni dibantu 15 relawan dari Bravo for Disability . “Bravo singkatan dari barisan volunteer,” ujarnya. ***

Selasa, 01 Oktober 2013

Banyak Dikritik, Revitalisasi Kota Tua Diteruskan

Jakarta, Suara Karya
Meskipun banyak kritik dan keluhan atas perkembangannya sekarang, secara bertahap revitalisasi Kota Tua Jakarta tetap diteruskan. Terutama menyangkut pembenahan semua museum yang ada di Kota Tua, tetap disinergikan dengan revitalisasi kawasan destinasi wisata tersebut.

Wakil Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, DR Tinia Budiati menegaskan itu di Museum Sejarah Jakarta (MSJ) Senin (30/9) usai rapat bersama kepala museum Pemprov DKI Jakarta. Hadir Kepala Balai Konservasi Candrian menjelang purnabaktinya, Kepala MSJ Enny Prihantini, Kepala Museum Wayang Dachlan, para Kasudin Pariwisata dan Kasudin Kebudayaan. “Dengan begitu pada saatnya nanti, semua museum di Kota Tua telah siap melayani pengunjung, secara lebih baik,” tambahnya.

Pemasangan lampu sorot di lantai Taman Fatahillah di Kota Tua.

Kepala Unit Pengembangan Kawasan Kota Tua, Drs Gatut Dwi Hastoro mengakui banyak pengunjung Kota Tua yang mengeluh karena trotoar di Jl Lada disalahgunakan untuk lintasan sepeda motor sehingga membahayakan pejalan kaki. Di trotoar Jl Lada juga ada lampu lantai yang hilang dikhawatirkan kabelnya membuat korsleting, Juga banyak yang menanyakan 3 gedung tua di sekitar Taman Fatahillah yang dibiarkan atapnya berantakan sehingga merusak pemandangan.
Gatut menegaskan masalah itu sudah pernah dibahas di tingkat Wali Kota untuk diatasi. Namun hingga sekarang belum ada realisasinya. “Kalau gedung Jasindo sudah dirapatkan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Seharusnya tahun 2013 sudah direnovasi,” ujarnya. Sedangkan gedung Cipta Niaga yang atapnya ambrol didapat informasi sedang dalam perencanaan renovasi oleh Indonesia Trading Company. Satu lagi bangunan tak terawat milik PT Das Saat padahal aslinya gedung itu indah.

Menurut Gatut Master Plan Kota Tua seluas 846 ha, memang dalam penyusunan baik dalam masalah luas wilayah maupun nomenklaturnya. Dalam revitalisasi sekarang diutamakan zona inti (zona 2 sekitar Taman Fatahillah) dan zona1yaitu Sunda Kelapa dan Museum Bahari. Pemerintah Provinsi dalam hal ini dinas terkait sedang memperbaiki lampu pencahayaan di Taman Fatahillah.
Menurut data di lapangan, sekitar 450 titik lampu lantai diganti. Senin yang lalu sudah selesai 250 titik lampu. Sedangkan tempat pedagang kaki lima sudah dibangun oleh Dinas Koperasi dan UMKM di deret di Jl Pos Kota, samping Kantor Pos dan di sebelah barat Museum Sejarah Jakarta.
Menurut catatan pengunjung Kota Tua Jakarta tahun ini meningkat 2 kali lipat dibanding 2 tahun lalu. Diperkirakan pengunjung Kota Tua tahun 2011 rata-rata mencapai 3.606 orang per hari, maka tahun ini mencapai 7. 212 orang per hari. Karena itu sekarang sedang dilakukan pembenahan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. “Sekarang sudah terlihat hasilnya walaupun tidak sekaligus,” kata Kepala Seksi Pengembangan UPP Kota Tua, Norviandi. Dikatakan, di Kota Tua ada 25 pemilik sepeda onthel dengan jumlah sepeda yang disewakan 280 kendaraan. Namun jenis sepedanya harus sesuai dengan julukan Kota Tua. Sepeda tandem dilarang.

Di Kota Tua berdiri lebih dari 100 bangunan cagar budaya dari abad ke 18 sampai awal abad 20. Gedung dan bangunan tua itu merupakan daya tarik pariwisata karena juga memiliki sejarah panjang. Di antaranya Toko Merah, Jembatan Kota Intan, Galangan VOC , Menara Syabandar 1839 dan Masjid Keramat Luar Batang. Belum lagi 5 museum di Kota Tua yakni Museum Sejarah Jakarta, Museum Wayang, Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum BI, Museum Mandiri dan Museum Bahari.

Untuk menghitung pengunjung Kota Tua dapat dilihat dari jumlah pengunjung Museum Sejarah Jakarta (MSJ). Diperkirakan pengunjung Kota Tua 3 kali lipat pengunjung MSJ. “Sebenarnya bisa mencapai 4 kali lipat. Soalnya pengunjung museum hanya 5 jam. Sedangkan Kota Tua dari pagi sampai malam. Luasnya pun puluhan kali lipat luas MSJ, ” kata Norviandi. Tercatat tahun 2011 jumlah pengunjung MSJ 400.572 orang, tahun 2012 meningkat 16% menjadi 464.638 orang. ****