Jakarta, Berita Supper
Kota Tua Jakarta terutama zona inti seluas 87 hektar yang meliputi Taman Fatahillah dan sekitarnya yang penuh bangungan cagar budaya dan sebagian menjadi museum-museum yang menarik koleksinya, begitu pesat kemajuannya sebagai ikon baru pariwisata DKI Jakarta. Itu berkat program revitalisasi Kota Tua Jakarta yang dilancarkan Pemprov DKI yang selesai di akhir pemerintahan Gubernur Sutiyoso tahun 2007. Hingga kini pengunjungnya tiap hari mencapai 5000-an orang , seimbang dengan Monumen Nasional atau Monas. Hal itu wajar, sebab kedua destinasi wisata rakyat ini sama-sama memiliki akses yang mudah dari segala arah, terutama dengan transportasi massal yang murah seperti bus TransJakarta dan kereta Commuter Line milik PT KAI.
Kemajuan Kota Tua itu kata Kepala Unit Pengembangan Kawasan (UPK) Kota Tua, Gatut Dwi Hastoro membuat banyak orang yang datang ikut mengapresiasi bahkan melengkapi sebagai daerah tujuan wisata sejarah. "Namun kami tak pernah mengkordinir ataupun membatasi," sanggah Gatut beberapa waktu lalu, di kantornya. Sebab semua kebijakan ada di tangan gubernur yang didelegasikan ke walikota Jakarta Barat dan bawahnya lagi Camat Tamansari.
Seorang pengamat pariwisata dan budaya Jakarta, H Abu Galih Widosamudra mengatakan, tiga tahun terakhir ini makin banyak masyarakat yang mengadu nasib di Kota Tua, tepatnya di Taman Fatahillah, yang merupakan zona dua Kota Tua. Setelah pedagang asongan , pedagang K-5, muncul usaha jasa kreatif, seperti persewaan sepeda onthel sekaligus menjadi pemandu wisata. Kemudian hadir manusia-manusia patung, disusul orang orang –orang kreatif lainnya yang menawarkan jasa hiburan, di antaranya Mochtar, seorang kakek berumur 59 tahun, warga RT 08/03 Kelurahan Penggilingan, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur.
Menggelar peralatan di dekat meriam Si Jagur dari Portugis (dari abad 17) yang pernah dikeramatkan sebagai dewa kesuburan, di situlah Mochtar menghibur pengunjung Kota Tua dengan boneka tengkoraknya. Kerangka dengan tengkorak bertopi gaya Michel Jackson itu berjingkrak-jingkrak diiringi lagu-lagu dangdut dari hasil remix di flash disc milik Mochtar. Si empunya boneka mengendalikan dari belakang dengan tali maupun kawat dan tuas penggerak. Para wisatawan tersenyum melihatnya. Ada yang langsung nyawer, ada pula yang mendekati tengkorak jingkrak itu lalu berakting dan minta difoto. Dengan senang hati, aktor dadakan inipun mengisi kotak saweran milik Mochtar.
Berapa hasilnya sehari ?
"Cukuplah untuk makan dan menyekolahkan anak," jawabnya plastis, . Mochtar, suami Sri Hastuti (52), bapak 6 anak serta kakek 7 cucu ini mengaku sebelum mangkal di Kota Tua, ia menjadi pengamen keyboard berkeliling Jadetabek. Meskipun kulitnya sudah agak keriput, dan rambutnya sudah banyak beruban, suaranya masih merdu. Ia senang lagu-lagu melankolis dari Pance Pondaag. Juga lagu –lagu Panbers seperti "Awal dari Cinta," dan "Gereja Tua,".
Lagunya Sam D'Lloyd bertajuk "Titik Noda" takkan pernah ia lupakan syairnya…"Sore itu langit semakin gelap, mendungpun kian menebal,….." Kiranya seperti nasib Mochtar penggalan lagu tadi.
Sejak HUT ke 487 Kota Jakarta, ia tak boleh lagi memainkan tengkorak jingkraknya di Taman Fatahillah, tempat tentara Sultan Agung Mataram melabrak ke Batavia melawan tentara penjajah Belanda tahun 1628-1629 pimpinan Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen.
Banyak orang kehilangan Mochtar, termasuk para mahasiswa kesenian yang mengamatinya di antaranya mengaku mahasiswa dari Universitas Mercu Buana, Jakarta Barat. Banyak pula yang mencoba mencarinya sehingga membuat Mochtar tak nyaman memegang handphone yang tiap saat bordering. Maknya ia pergi mengamen tanpa membawa alat komunikasi itu.
Meskipun begitu akhirnya kita berhasil menemui seniman tua itu di rumahnya yang menyempil di Penggilingan RT 08/03. "Kalau keyboard saya nggak rusak mungkin bapak –bapak nggak ketemu saya,"ujar Mochtar sambil mempersilakan kami masuk. Ia pun segera menunjukkan keyboard merk Yamaha tahun 1983 yang baru saja selesai diperbaiki.
Tak mengira kebahagiaannya menghibur pengunjung Kota Tua harus berakhir. Ia tinggalkan boneka tengkoraknya dan kembali menekuni profesi semula menjadi pengamen naik turun bus kota trayek Senen –Tangerang, Tiap pagi usai solat Subuh ia sudah naik Metromini 47 ke terminal Senen untuk mencari rezeki untuk anak isteri. Anak yang bungsu masih sekolah di SDN Malaka Sari.
Setua itu Mochtar harus naik turun angkutan umum dalam udara yang panas. Sering dirasakan cepat capek, Makanya kalau boleh ia ingin kembali mangkal di Kota Tua lagi. Sebab dilihatnya manusia-manusia patung yang memang mereka itu tak menyampah dan tak membuat kegaduhan diperbolehkan berekspresi di situ sambil menerima kontra prestasinya dari pengunjung yang mengajak berfoto. "Mengapa saya tak boleh? Toh sama saya juga tak membuat sampah dan tak membuat gaduh?
Karena itu ia ingin menemui Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI untuk meminta perlindungan mendapat tempat berekspresi di destinasi wisata yang satu ini. ****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar